Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ahmad dhani. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ahmad dhani. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Chrisye

Chrismansyah Rahadi atau Christian Rahadi lahir di Jakarta, pada 16 September 1949. Ia lebih dikenal dengan nama panggung Chrisye, yang adalah seorang penyanyi dan pencipta lagu.

Dilahirkan di Jakarta dari keluarga Tionghoa-Indonesia, Chrisye menjadi tertarik dengan musik saat masih muda. Waktu masih belajar di SMA, Chrisye main gitar bas dalam sebuah band yang ia bentuk bersama kakaknya, Joris. Pada akhir dasawarsa 1960-an dia menjadi anggota band Sabda Nada (yang kemudian hari berganti nama menjadi Gipsy). Pada tahun 1973, setelah mengambil cuti beberapa lama, dia mengikuti band tersebut ke New York untuk main musik. Setelah kembali ke Indonesia untuk waktu singkat, dia kembali ke New York dengan band lain, yaitu The Pro's. Sekembali ke Indonesia, pada tahun 1976 dia bekerja sama dengan Gipsy dan Guruh Soekarnoputra untuk merekam album indie Guruh Gipsy.

Setelah keberhasilan Guruh Gipsy, pada tahun 1977 Chrisye menghasilkan dua karya terbaiknya, yaitu "Lilin-Lilin Kecil" tulisan James F. Sundah serta album jalur suara Badai Pasti Berlalu. Sukses kedua karya ini membuat Chrisye direkrut oleh Musica Studios, yang dengan perusahaan rekaman itu dia merilis album solo perdananya, Sabda Alam, pada tahun 1978. Selama kariernya yang lebih dari 25 tahun dia menghasilkan 18 album solo lain, serta main dalam satu film: Seindah Rembulan (1981).

Chrisye meninggal di rumahnya di Jakarta pada tanggal 30 Maret 2007 setelah bertahun-tahun mengidap kanker paru-paru. Dia meninggalkan seorang istri, Gusti Firoza Damayanti Noor, dan empat anak.

Dikenal untuk vokalnya yang halus dan gaya panggung yang kaku, Chrisye dianggap salah satu penyanyi Indonesia legendaris. Lima album yang termasuk karyanya dimuat dalam daftar 150 Album Indonesia Terbaik oleh majalah musik Rolling Stone Indonesia. Lima lagunya (dan satu lagi yang dia dukung) dimuat dalam daftar lagu terbaik oleh majalah yang sama pada tahun 2009. Beberapa albumnya disertifikasi perak atau lebih tinggi. Dia menerima dua lifetime achievement award, satu pada tahun 1993 dari BASF Awards dan satu lagi pada tahun 2007 dari stasiun televis SCTV. Pada tahun 2011, Rolling Stone Indonesia mencatat Chrisye sebagai musisi Indonesia terbaik nomor tiga sepanjang masa.

KEHIDUPAN DAN KARIR 
Chrisye dilahirkan dengan nama Christian Rahardi di Jakarta pada tanggal 16 September 1949 di keluarga Laurens Rahadi, seorang wirausaha keturunan Betawi-Tionghoa, dan Hanna Rahadi, seorang ibu rumah tangga keturunan Sunda-Tionghoa. Dia anak kedua dari tiga anak laki-laki yang dipunyai pasangan Kristen tersebut; saudaranya bernama Joris dan Vicky. Setelah masa kecilnya dihabiskan di Jalan Talang, dekat Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 1954 keluarga itu berpindah ke Jalan Pegangsaan (di Menteng).

Saat sekolah di SD GIKI, Chrisye berteman dengan anak-anak keluarga Nasution, yang menjadi tetangganya; dia paling akrab dengan Bamid Gauri, dengan siapa dia sering bermain bulu tangkis dan layang-layang. Pada waktu itu dia juga mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya; dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin. Setelah lulus SD, Chrisye menghadiri SMPK III Diponegoro.

Saat Chrisye duduk di bangku SMA PSKD Menteng, Beatlemania tiba di Indonesia. Ini membuat Chrisye lebih tertarik dengan dunia musik. Menanggapi kehendak Chrisye untuk bermain musik, ayahnya membeli sebuah gitar; Chrisye memilih gitar bas, sebab dia beranggapan bahwa gitar tersebutlah yang paling mudah dipelajari. Chrisye dan Joris belajar bermain musik dengan mengikuti lagu-lagu di radio dan piringan hitam ayah mereka; akibatnya, mereka tidak dapat membaca nota musik. Mereka lama-kelamaan mulai main musik di acara sekolah, dengan Chrisye sebagai vokalisnya. Juga waktu di SMA, Chrisye diam-diam mulai merokok; pada suatu saat, dia ditangkap kepala sekolah dan disuruh merokok delapan batang secara bersamaan di depan siswa-siswi lain, tetapi dia tetap terus merokok sehingga menjadi perokok berat.

Pada pertengahan dasawarsa 1960-an, keluarga Nasution membentuk sebuah band; Chrisye dan Joris menonton mereka main musik oleh Uriah Heep dan Blood, Sweat & Tears. Pada tahun 1968 Chrisye mendaftar di Universitas Kristen Indonesia (UKI) untuk menjadi insinyur seperti yang dihendaki ayahnya. Sekitar tahun 1969, Gauri mengundangnya untuk menjadi anggota band Nasution, Sabda Nada, untuk menggantikan pemain bas mereka yang sedang sakit, Eddi Odek. Karena puas dengan kemampuannya, Nasution bersaudara mnta Chrisye menjadi anggota tetap. Sabda Nada bermain secara teratur di Mini Disko di Jalan Juanda serta untuk pesta ulang tahun dan pernikahan. Ketika Chrisye diberi kesempatan untuk bernyanyi saat mereka menyanyikan lagu versi daur ulang, dia berusaha untuk menggunakan suara yang mirip penyanyi aslinya.

Pada tahun 1969 Sabda Nada mengganti nama mereka menjadi Gipsy supaya terdengar lebih macho dan seperti band Barat. Jadwal untuk band itu, yang tidak mempunyai manager, sangat padat karena bermain secara teratur di Taman Ismail Marzuki. Akibatnya, Chrisye mengundurkan diri dari UKI; pada tahun 1970 dia masuk ke Akademi Pariwisata Trisakti karena mengganggap jadwalnya lebih fleksibel.

Dua tahun kemudian, Chrisye ditawarkan kesempatan untuk main di New York. Biarpun dia senang sekali, Chrisye takut untuk menceritakan hal tersebut kepada ayahnya, yang dia merasa tidak akan menyetujui. Akhirnya dia jatuh sakit selama beberapa bulan, sementara Sabda Nada pergi ke New York. Setelah Chrisye membahas kekhawatirannya dengan ibunya dan Joris, ayahnya pun menyetujui agar dia bisa mengundurkan diri dari kuliah dan pergi ke New York. Setelah kesehatannya sudah membaik, pada tengah tahun 1973 dia pergi bersama Pontjo untuk bertemu dengan Gipsy di Amerika Serikat; pada tahun yang sama dia mengundurkan diri dari Trisakti.

Selama di New York, Gipsy memanggung di Ramayana Restaurant, yang milik perusahaan minyak Pertamina. Band itu, yang ditempatkan di suatu apartmen di Fifth Avenue, berada di New York untuk hampir satu tahun. Mereka menyanyikan lagu-lagu Indonesia serta versi daur ulang dari lagu Procol Harum, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer, Genesis dan Blood, Sweat & Tears. Biarpun Chrisye merasa frustrasi karena tidak dapat mengekspresikan diri dengan musik orisinal, dia tetap bekerja.

Setelah kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1973, Gauri memperkenalkan Chrisye dengan penulis lagu Guruh Soekarnoputra, anak dari mantan presiden Soekarno. Sementara Nasution bersaudara bekerja sama dengan Guruh untuk menyiapkan proyek mereka, Chrisye mulai menciptakan lagu sendiri; karena menciptakan lagu sendiri dia bisa menyadari bahwa dia kesulitan dengan lirik yang mengandung konsonan keras, dan bisa menghindari bunyi tersebut. Tahun berikutnya dia kembali ke New York dengan band lain, The Pro's. Pada pertengahan tahun 1975, dengan beberapa minggu tersisa di kontrak kerjanya, orang tuanya menelepon Chrisye dari Jakarta dan memberi tahu kalau saudaranya Vicky meninggal akibat infeksi lambung. Karena tidak dapat kembali langsung ke Jakarta, pikirannya jadi kacau. Saat kembali ke Indonesia, Chrisye tak berhenti-henti menangis dalam pesawat dan menjadi depresi.

Setelah beberapa waktu tidak bermain musik, Chrisye dihubungi oleh Nasution bersaudara dan diundang untuk bergabung dengan Gipsy dan Guruh untuk sebuah proyek baru; Guruh juga menawarkan beberapa lagu untuk Chrisye menjadi vokalis utama, dengan lirik ditulis khususnya untuk dia. Setelah mengatasi rasa depresinya, Chrisye mengikuti latihan di rumah Guruh di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka main sampai larut malam dan mencampurkan rock ala Barat dengan gamelan Bali. Perekaman terjadi pada pertengahan tahun 1975, dengan hanya empat lagu terselesaikan dalam beberapa bulan pertama. Pada tahun 1976 album Guruh Gipsy diluncurkan dan diterima baik oleh para kritikus; ada sebanyak 5.000 keping yang diproduksi. Berhasilnya Guruh Gipsy meyakinkan Chrisye bahwa dia dapat menjadi penyanyi tunggal.

Pada akhir tahun 1976 Chrisye dihampiri oleh Jockie Soerjoprajogo, seorang pencipta lagu, dan Imran Amir, pemimpin Radio Prambors; mereka meminta agar Chrisye menjadi vokalis untuk Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors. Namun, Chrisye menolak. Beberapa hari kemudian Sys NS, yang pada saat itu bekerja di Prambors, mendekati Chrisye waktu penyanyi itu sedang berbincang dengan Guruh dan Eros Djarot. Sys menekankan bahwa Chrisye diperlukan untuk lagu "Lilin-Lilin Kecil" karya James F. Sundah. Setelah dia mendengar lirik lagu tersebut, Chrisye setuju. Lagu ini direkam di studio Irama Mas di Pluit, Jakarta Utara dan dimuat dalam sebuah album dengan pemenang lomba lain; awalnya, "Lilin-Lilin Kecil" dimuat di urutan kesembilan, tetapi akhirnya dipindahkan ke urutan pertama supaya lebih laris. Setelah itu, lagu ini menjadi terkenal; album LCLR 1977 menjadi album paling laris tahun itu.

Setelah sukses "Lilin-Lilin Kecil", di pertengahan tahun 1977 Pramaqua Records mendekati Chrisye dan menawarkan sebuah album, yaitu Jurang Pemisah. Bekerja sama dengan Jockie, Ian Antono, dan Teddy Sujaya, Chrisye merekam tujuh lagu untuk album tersebut; Jockie merekam dua lagu lain. Biarpun Chrisye senang dengan hasilnya dan mempunyai harapan tinggi untuk Jurang Pemisah, Pramaqua memutuskan bahwa itu tidak bisa laris dan tidak hendak mempromosikannya sehingga album Chrisye berikutnya, Badai Pasti Berlalu, menjadi besar. Setelah itu, Chrisye berusaha untuk membeli semua stok album Jurang Pemisah dan menghentikan rilisnya, namun tidak berhasil. Album ini tidak laris di pasaran sebab banyak orang beranggapan kalau ini album lanjutan dari Badai Pasti Berlalu. Walaupun rekaman ini sampai pada stasiun radio di seluruh Indonesia, menurut Chrisye penjualannya "hangat-hangat tahi ayam"

Pada tahun yang sama, Chrisye dan beberapa artis, termasuk Eros dan Jockie, merekam musik untuk film Badai Pasti Berlalu dalam waktu dua bulan. Setelah musik film tersebut mendapatkan Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1978, Irama Mas mendekati mereka untuk membuat album jalur suara untuk biaya tetap. Dengan Chrisye dan Berlian Hutauruk sebagai vokalis, sebuah album jalur suara direkam di Pluit dalam kurung waktu 21 hari. Album yang dihasilkan dirilis dengan judul yang sama dengan film, dengan gambar bintang film Christine Hakim di sampul. Album ini memuat lagu ciptaan Chrisye yang pertama, "Merepih Alam". Hasil penjualan di awal kurang lancar, tetapi setelah singel-singelnya mulai diputar album Badai Pasti Berlalu menjadi laris.

Suara Chrisye yang tenor serta kerjanya di Badai Pasti Berlalu memicu Amin Widjaja dari Musica Studios untuk memintanya menjadi artis Musica; Amin sebenarnya sudah lama mengamati Chrisye, sejak dirilisnya Guruh Gipsy. Chrisye setuju, asalkan dia diberikan kebebasan artistik; Amin terpaksa menyetujui syarat tersebut. Chrisye langsung mengerjakan album perdananya dengan Musica pada bulan Mei 1978, yaitu Sabda Alam (Nature's Order). Dia memilih beberapa lagu karya artis lain dan menulis beberapa lain sendiri, termasuk lagu "Sabda Alam". Dia merekam album itu setelah menguncikan diri dalam studio dengan sound engineer dan penata musik; biarpun Amin hendak melihat kemajuan mereka, Chrisye tidak mengizinkannya masuk. Album yang dihasilkan, yang diilhami oleh Badai Pasti Berlalu dan menggunakan teknik double-recording yang dipelopori The Beatles, dirilis pada bulan Agustus. Setelah beberapa lama promosi dengan TVRI dan stasiun radio, album ini laris; akhirnya lebih dari 400,000 kuping terjual.

Tahun berikutnya, Chrisye merekam Percik Pesona bersama Jockie. Album ini, yang dibuat setelah kematian Amin, termasuk beberapa lagu yang ditulis oleh sahabat Chrisye, Junaidi Salat, serta Jockie dan Guruh. Judul album ini dipilih bersama. Album ini dirilis pada bulan Agustus 1979, gagal dalam mata kritikus dan pasar. Chrisye, setelah diskusi dengan beberapa artis, beranggapan bahwa gagalnya album ini disebabkan miripnya dengan Badai Pasti Berlalu. Akibatnya, setelah beberapa waktu berkontemplasi, dia mulai mencari jenis musik baru. Pada tahun yang sama, dia menjadi anggota juri LCLR Prambors, yang diadakan pada tanggal 5 Mei.

Setelah memutuskan bahwa lagu pop yang romantis paling cocok untuk dirinya, Chrisye mulai merintis album berikutnya, Puspa Indah. Semua lagu kecuali satu ditulis oleh Guruh Sukarnoputra; album ini juga memuat lagu berbahasa Inggris "To My Friends on Legian Beach". Dua lagu dari album ini, "Galih dan Ratna" dan "Gita Cinta", digunakan dalam film tahun 1979 Gita Cinta dari SMA; dalam film tersebut, Chrisye mendapatkan kameo sebagai penyanyi. Dengan popularitas film tersebut, album Puspa Indah pun menjadi laris; lagu "Galih dan Ratna" dan "Gita Cinta", yang dijadikan singel, juga diterima dengan hangat.

Pada tahun 1981 Chrisye mendapatkan peran dalam film Indonesia Seindah Rembulan. Biarun awalnya enggan, dia dibujuk Sys NS sehingga akhirnya setuju. Namun, di kemudian hari dia menyesalkan keputusan ini karena beranggapan bahwa produksinya kurang profesional dan sering bertantangan dengan sutradara Syamsul Fuad. Pada tahun yang sama dia menghasilkan Pantulan Cinta, sebuah kolaborasi dengan Jockie. Setelah album ini gagal di pasaran, Chrisye memutuskan untuk mengambil cuti panjang.

KISAH ASMARA 
Biarpun disuka para groupie, Chrisye sampai awal tahun 1980-an jarang berpacaran. Akan tetapi pada awal tahun 1981, dia mulai mendekati sekretaris Guruh Soekarnoputra, yaitu Gusti Firoza Damayanti Noor (Yanti). Yanti, yang mempunyai keturunan Dayak dan Minang, juga seorang penyanyi dan berasal dari keluarga musisi; dia sering membahas musik dengan Chrisye saat Chrisye menunggu Guruh, dan mereka juga bertemu saat Chrisye mengunjungi kakaknya, Raidy, yang merupakan salah satu temannya. Saat Yanti pindah ke Bali untuk bekerja di hotel bintang lima selama beberapa minggu, Chrisye mengikutinya dan menyatakan bahwa dia siap menikahinya ketika Yanti kembali ke Jakarta; biarpun itu bukan lamaran resmi, Yanti menerima. Pada tahun 1982 Chrisye masuk Islam, sebab Islam tidak mengizinkan pernikahan antara wanita Muslim dengan pria non-Muslim; pada saat itu, Chrisye sudah tidak puas dengan agama Kristen. Pada tanggal 12 Desember 1982 Chrisye dan Yanti menikah di suatu acara bergaya adat Padang.

KEHIDUPAN BARU 
Terdorong oleh keadaan finansialnya yang kurang baik, awal tahun 1983 Chrisye mulai menggarap album baru bersama Eros dan Jockie. Aciu Widjaja, yang menjadi pemimpin Musica yang baru, mengusulkan bahwa mereka memerlukan gaya musik yang baru; dengan demikian,Chrisye, Djarot, dan Jockie mencampurkan art rock dengan pop romantis, serta menarik ilham dari The Police. Album yang dihasilkan, Resesi, dirilis pada tahun 1983. Album ini laris di pasar, dengan 350.000 keping terjual dan akhirnya disertifikasi perak; singelnya sendiri, "Lenny", "Hening", dan "Malam Pertama", banyak diputar di radio.

Setelah Resesi, Chrisye bekerja sama dengan Eros dan Jockie pada album Metropolitan tahun 1983. Album tersebut, yang dipengaruhi aliran new wave dan banyak membahas isu yang dihadapi para pemuda dan pemudi, diterima dengan baik oleh pasar sehingga diberi sertifikasi perak. Pada tahun yang sama, Chrisye dan Yanti mendapatkan anak pertama mereka, Rizkia Nurannisa. Pada tahun berikutnya, Chrisye, Eros, dan Jockie bekerja sama lagi pada album Nona, yang memuat berbagai kritik sosial; album tersebut menghasilkan empat singel dan disertifikasi platinum. Biarpun Nona diterima baik oleh pasar, Chrisye mengambil keputusan untuk mencari suara baru dan memutuskan hubungan kerja dengan Eros dan Jockie di pertengahan tahun 1984

Tak lama kemudian, Chrisye mendekati Addie MS, seorang musisi muda, dan minta bantuannya untuk album berikutnya. Addie, biarpun merasa bahwa dia kurang bergengsi dibanding Eros dan Jockie, setuju; Addie lalu menyarankan agar mereka menggunakan melodi yang mirip dengan "Lilin-Lilin Kecil" dan Badai Pasti Berlalu. Album yang dihasilkan, Sendiri, memuat lagu yang ditulis oleh Guruh dan Junaidi Salat serta alat musik seperti harpa, obo, English horn, dan beberapa alat musik dawai. Album ini, yang melahirkan tiga singel, laris dan mendapatkan penghargaan BASF Award untuk Chrisye.

Pada akhir tahun 1984 Chrisye mendekati pencipta lagu muda lain, Adjie Soetama, yang dia mengajak bekerja sama untuk menyiapkan album berikutnya. Sebab beat ringan dan melodi ceria sedang populer, mereka menggunakan gaya yang ringan. Perekaman album baru ini, Aku Cinta Dia, mulai pada tahun 1985; selain Adjie, ada sumbangan lagu dari Guruh dan Dadang S. Manaf. Lagu "Aku Cinta Dia" dipilih sebagai judul album setelah Aciu mendengar mereka bermain bersama dan memutuskan bahwa lagu itu layak dijagokan. Oleh karena album ini memerlukan emosi yang lebih banyak, Chrisye – yang terkenal kaku – kesulitan dengan proses promosi, biarpun istrinya menyiapkan kostum warna-warni dan Alex Hasyim menjadi koreografer. Setelah dirilis, Aku Cinta Dia terjualan ratusan ribu kuping pada minggu pertama dan akhirnya diberi sertifikasi emas. Pada tahun yang sama, Chrisye dan Adjie menghasilkan Hip Hip Hura, dan suatu kolaborasi lain, Nona Lisa, dirilis pada tahun 1986; kedua album tersebut mempunyai beat dan irama yang mirip Aku Cinta Dia dan terjual laris, biarpun tidak selaris kolaborasi pertama. Pada 2 Maret 1986 Chrisye dan Yanti mempunyai anak perempuan, Risty Nurraisa.

Biarpun tiga album itu laris di pasar, Chrisye dan keluarganya masih dalam keadaan finansial yang sulit, sehingga dua kali mereka harus menjual mobil mereka. Ini membuat Chrisye mempertimbangkan berhenti dari dunia musik, biarpun akhirnya memutuskan untuk lanjut. Pada tahun 1988 merekam Jumpa Pertama, dan pada tahun berikutnya dia merilis Pergilah Kasih. Di kemudian hari dia mengenang bahwa kedua album itu mempunyai "sentuhan rasa yang indah." Lagu yang digunakan untuk judul, "Pergilah Kasih", ditulis oleh Tito Sumarsono dan digunakan untuk video klip Chrisye pertama; video klip perdana ini menjadi klip Indonesia pertama yang ditayangkan di MTV Asia Tenggara.

Pada tanggal 27 Februari tahun berikutnya, Chrisye dan Yanti mendapatkan anak kembar, Randa Pramasha dan Rayinda Prashatya. Pada tahun 1992 Chrisye merekam versi daur ulang dari lagu Koes Plus bertajuk "Cintamu T'lah Berlalu", dengan penataan musik oleh Younky; video klip untuk lagu tersebut juga disiarkan di MTV Asia Tenggara dan menjadi video klip Indonesia pertama untuk masuk MTV Amerika. Pada tahun berikutnya, Chrisye bekerja sama dengan Younky lagi untuk merekam Sendiri Lagi, sebuah proyek yang makan empat bulan untuk perancangan dan empat bulan untuk perekaman; video klip ini pun beredar di MTV Asia Tenggara.

Biarpun Sendiri Lagi cukup laris, pada awal dasawarsa 1990-an Chrisye mulai merasa tekanan dari industri musik yang semakin mengutamakan penampilan dan meningkatnya jumlah artis muda. Dia mulai mempertimbangkan meninggalkan dunia musik, sebab "merasa sudah sampai garis finish". Biarpun Yanti menyatakan bahwa banyak musisi tetap laku sampai umur 60-an, Chrisye memperhatikan bahwa para artis senior sudah mulai dikesampingkan oleh pendatang baru. Dalam keadaan depresi ini, Chrisye didekati oleh Jay Subyakto dan Gauri Nasution, yang menawarkannya sebuah konser tunggal di Plenary Hall di Jakarta Convention Centre, yang pada saat itu belum pernah mengadakan konser tunggal untuk artis Indonesia. Karena tidak yakin bahwa penggemarnya cukup banyak untuk mengisi hall tersebut, Chrisye mula-mula menolak.

Setelah Chrisye diperkenalkan dengan Erwin Gutawa, yang diangkat untuk mempersiapkan konser, dan beberapa minggu ditekankan oleh Gauri, akhirnya Jay Subyakto berhasil membujuk Chrisye dengan mengatakan bahwa itu mungkin kesempatan terakhir untuk menyelamatkan kariernya. Karena kekurangan uang, mereka mendekati RCTI untuk meminta sponsor. Akan tetapi, mereka ditolak dan bahkan diejek dengan saran agar mengadakan konser di Monumen Nasional. Karena tidak bersedia menelantarkan rencana mereka itu, Chrisye, Subaktyo, dan Gutawa mengumpulkan sekelompok artis dan mulai pelatihan. Menjelang hari ulang tahun RCTI yang keempat, mereka rela menyetujui konser tersebut sebagai bagian dari perayaan mereka. Ribuan tiket yang tersedia terjual habis dalam satu minggu.

Setelah sukses tur Sendiri, Chrisye mulai mempertimbangkan membuat sebuah album yang termasuk lagunya yang paling populer, dengan pemasteran ulang oleh Gutawa memaster. Gutawa setuju untuk membuat sebuah album akustik, dengan syarat bahwa mereka harus menggunakan sebuah orkes dari Australia. Aciu pun menyetujui hal tersebut, biarpun biayanya diperkirakan mencapai Rp.600 juta. Setelah perekaman dasar di Jakarta, Chrisye, Gutawa, dan sound engineer Dany Lisapali menghabiskan waktu dua minggu di Studio 301 di Sydney untuk menyelesaikan album itu. Philip Hartl Chamber Orchestra memainkan musik yang diperlukan; mixing dan mastering juga dilakukan di Sydney. AkustiChrisye dirilis pada tahun 1996 dan cukup berhasil di pasaran.

Setelah AkustiChrisye, Gutawa menyarankan agar Chrisye mencoba gaya yang baru, dengan lagu yang lebih berat. Mereka lalu mulai bekerja sama untuk merekam Kala Cinta Menggoda, yang juga menggunakan orkes Australia. Akan tetapi, Chrisye ternyata kesulitan merekam salah satu lagunya, "Ketika Tangan dan Kaki Berkata", yang diberi lirik yang berdasarkan ayat 65 Surah Ya Sin oleh penyair Taufiq Ismail; setiap kali hendak menyanyikan lagu itu, Chrisye mendadak menangis. Akhirnya, satu hari sebelum berangkat ke Australia, dia dapat menyelesaikan lagu tersebut dengan dukungan Yanti. Pada tanggal 11 Oktober, Chrisye menyanyikan lagu "Indonesia Perkasa" pada acara pembukaan Pesta Olahraga Asia Tenggara 1997 di Jakarta; lagu tersebut ditulis khusus untuk acara itu. Bulan berikutnya, Chrisye meluncurkan Kala Cinta Menggoda. Video klip untuk lagu "Kala Cinta Menggoda", yang disutradarai Dimas Djayadiningrat, memenangkan MTV Video Music Award for South-East Asia pada tanggal 10 September 1998; Chrisye pergi ke Los Angeles untuk menerima penghargaan tersebut di Universal Amphitheatre.

Pada tahun 1999, Chrisye mulai mendaur ulang album Badai Pasti Berlalu atas permintaan Musica, biarpun dia merasa bahwa album asli sudah cukup; untuk album ini pula dia bergabung dengan Gutawa. Album baru itu, yang tetap diberi judul Badai Pasti Berlalu, memakan biaya sebanyak Rp.800 juta untuk produksi dan promosi; biaya besar tersebut sebagian disebabkan perlunya mencari orkes Australia lain, Victorian Philharmonic Orchestra. Setelah diluncurkan, album ini pun laris, dengan menjual 350.000 kuping dalam beberapa bulan. Sebagai promosi untuk album ini, Chrisye mengadakan satu lagi konser di Plenary Hall di Jakarta Convention Centre, yang diberi nama konser Badai; setelah ini, Chrisye mendapatkan banyak tawaran untuk memanggung di berbagai tempat di seluruh Indonesia. Menurut sebuah wawancara dengan Kompas, pada saat ini Chrisye mulai merasa telah menemukan jalan buntu, sebab dia sudah mencicipi semua jenis musik yang ada. Namun, dia tetap lanjut dengan kegiatan bernyanyi, termasuk menyanyikan lagu "Indonesia Perkasa" pada acara pembukaan Pekan Olahraga Nasional ke-15 pada tanggal 19 Juni 2000 di Sidoarjo, Jawa Timur.

Pada tahun 2001 Chrisye merilis album Konser Tur 2001, yang berisi dua lagu baru dan beberapa yang lama. Video klip untuk salah satu lagu, "Setia", menjadi kontroversial karena adanya adegan dengan wanita berpakaian ketat. Tak lama kemudian, Chrisye memutuskan untuk mendaur ulang lagu-lagu yang dianggap paling penting sejak kemerdekaan Indonesia, dari dasawarsa 1940-an yang diwakili "Kr. Pasar Gambir & Stambul Anak Jampang" karya Ismail Marzuki hingga akhir dasawarsa 1990-an yang diwakili lagu "Kangen" karya Ahmad Dhani; album ini juga termasuk satu lagu yang ditulis khusus untuk album ini oleh Pongky dari Jikustik serta dua duet dengan Sophia Latjuba. Album yang dihasilkan, Dekade, dirilis pada tahun 2002; hingga Oktober 2003 lebih dari 350.000 terjual. Pada 15 Desember 2002, Chrisye ikut serta dalam konser Bali for the World – Voices of Stars di Kartika Beach Plaza untuk mengumpulkan uang untuk membantu korban Bom Bali 2002; artis lain termasuk Melly Goeslaw, Gigi, Slank, dan Superman Is Dead. Pada 12 July 2004 Chrisye mengadakan konser ketiga, dengan judul Dekade, di Plenary Hall. Konser ini, yang termasuk lagu-lagu dari album Dekade, termasuk duet dengan Sophia Latjuba dan beberapa penyanyi asli, seperti Fariz RM dengan "Sakura" dan A. Rafiq dengan "Pengalaman Pertama"; orkes Gutawa sekali lagi mengiringi konser.

Chrisye lalu mulai mengerjakan studio album terakhirnya, Senyawa. Bekerja sama dengan berbagai artis Indonesia lain, termasuk Project Pop, Ungu, dan Peterpan, dia juga menjadi produser album ini, menggantikan Gutawa. Lagu "Bur-Kat", bersama Project Pop, merupakan usaha pertamanya untuk bernyanyi rap. Album ini, yang diluncurkan pada bulan November 2004, disambut dengan baik oleh pasar. Namun, Sony Music Entertainment Indonesia menolak bahwa ada nama artis mereka di sampul. Oleh karena itu, Senyawa ditarik kembali, lalu dirilis ulang tanpa nama-nama itu.

KEMATIAN
Pada bulan Juli 2005 dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah karena sesak nafas. Setelah 13 hari dirawat, dia dipindahkan ke Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura, di mana dia dinyatakan mengidap kanker paru-paru. Biarpun khawatir bahwa dia akan kehilangan rambutnya yang gondrong, yang dia menganggap sebagai bagian citranya, dia menjalani kemoterapi enam kali, dengan perawatan pertama pada tanggal 2 Agustus 2005.

Kesehatan Chrisye membaik pada tahun 2006 dan dia merasa cukup kuat untuk mengikuti wawancara panjang dengan Alberthiene Endah pada bulan Mei dan November 2006 saat Alberthiene menulis biografinya. Dia juga menghasilkan dua album kompilasi, Chrisye by Request dan Chrisye Duets; namun, dia merasa kurang sehat untuk menghasilkan lagu baru. Akan tetapi, pada awal Februari 2007 kondisi fisiknya kembali memburuk.

Pada 30 Maret 2007, Chrisye meninggal pada pukul 4:08 WIB di rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan. Dia dikebumikan di TPU Jeruk Purut.
Seratus hari setelah meninggalnya Chrisye, Musica mengeluarkan dua album kompilasi. Album ini, dengan judul Chrisye in Memoriam – Greatest Hits dan Chrisye in Memoriam – Everlasting Hits, termasuk empat belas lagu per kuping dari sepanjang kariernya bersama Musica. Pada tanggal 1 Agustus 2008, singel Chrisye terakhir, "Lirih", yang ditulis oleh Aryono Huboyo Djati, diluncurkan. Lagu tersebut mula-mula dirahasiakan, dan tanggal perekamannya tidak diketahui. Menurut Djati, lagu itu direkam sebagia hiburan. Sebuah video klip yang disutradarai Vicky Sianipar dan termasuk Ariel Peterpan, Giring Ganesha dari Nidji, dan janda Chrisye lalu dirilis.


DISKOGRAFI

Bersama Guruh Gipsy
Album Studio

Download Lagu Chrisye Album Senyawa

Senyawa merupakan album musik karya Chrisye. Dirilis tahun 2004. lagu populernya ialah Menunggumu, Jika Surga dan Neraka, dan Bur-Kat.
Album ini merupakan album Chrisye yang banyak diisi kolaborasi bersama musisi lain. Namun terdapat masalah pada cover albumnya, yaitu tercantumnya nama Eross Candra dan Tohpati yang merupakan musisi dari Sony Music Entertainment. Maka direvisilah sampul album tersebut.

Daftar Lagu
Klik pada lagu untuk download mp3-nya
  1. Jika Surga dan Neraka (duet bersama Ahmad Dhani)
  2. Bur-Kat (duet bersama Project Pop)
  3. Menunggumu (duet bersama Peterpan)
  4. Luna Kelam
  5. Panah Asmara
  6. Beku
  7. Cinta Yang Lain (duet bersama Ungu)
  8. Suatu Persembahan Cinta 
  9. Tjah Ajoe

Jumat, 25 Oktober 2013

Judika

Judika Nalon Abadi Sihotang lahir di Sidikalang, Dairi, Sumatera Utara, 31 Agustus 1978. Ia adalah seorang penyanyi berkebangsaan Indonesia yang meraih runner-up Indonesian Idol 2. Ia adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara yang menghabiskan masa kecilnya dengan berbagai macam kegiatan. Bakat bernyanyinya sudah tampak semenjak Judika masih duduk di bangku Sekolah Dasar Inpres di Brastagi. Bahkan ia sempat membuat grup vokal bersama Roy (adik), Juneidi (sahabat) dan Jonathan (sahabat) dan juga dikontrak di sebuah hotel internasional berbintang 5 di Brastagi. Judika kecil tidak puas berbangga hati ketika banyak yang bilang ia punya potensi menjadi bintang. Lantas ia menjajal kemampuannya lewat Bahana Suara Pelajar dan keluar sebagai juara pertama untuk tingkat Sumatera Utara dan cukup puas di posisi ketiga untuk tingkat Nasional. Selain bersolo karier, saat ini Judika juga menjajal sebagai anak band dengan menjadi vokalis Mahadewa sebuah band yang digawangi Ahmad Dhani.

Tak hanya berprofesi sebagai penyanyi, Judika juga mulai merambah dunia akting. Ia bermain di film "Si Jago Merah" pada 2008, dan pada 2009 bermain di film "The Tarix Jabrix 2". Bersama kekasihnya, Duma Riris Silalahi ia juga bermain di film "Impal (pariban)".
Di ajang Indonesian Movie Awards 2009, Judika mendapatkan penghargaan dalam kategori Pemeran Pendatang Baru Pria Terbaik lewat film "Si Jago Merah".

PERJALANAN KARIR
Judika memulai semuanya dari nol hingga berhasil seperti saat ini. Kesuksesannya berhasil mengantarkan Judika meraih apa yang sebelumnya tak bisa ia raih.

Namun siapa sangka di balik cerita kesuksesan itu dia harus merasakan kerasnya kehidupan jalanan. Seakan sudah menjadi tradisi bagi orang Batak untuk merantau mencari penghidupan. Judika pun rela menjadi tukang tambal ban hingga menjadi kenek, yang penting mendapatkan pekerjaan halal.

Pekerjaan kasar ini sudah ia lakukan sedari kecil seperti menyemir sepatu dan lainnya sehingga ia tidak kaget. Sifat ini membuat dia menjadi pribadi yang mandiri.


Pertama kali datang ke Jakarta, Judika menuturkan jika dia tak kenal siapa-siapa. Namun karena keuletannya dan dia pintar bergaul membuat dia akrab dengan semua orang.
Keinginannya untuk menjadi penyanyi seakan tak pernah hilang. Dia terus mengikuti lomba menyanyi untuk mewujudkan cita-citanya. Ditipu diberbagai lomba juga sering dialaminya, namun tak membuat putus asa Judika.

Sembari mengikuti kontes-kontes menyanyi, Judika juga sering tampil mengisi acara di cafe atau bar secara rutin setiap Sabtu dan Minggu. Namun karena kesibukannya alhasil kuliahnya pun ditinggalkan. Judika sendiri merasa dia telah menyakiti hati orang tuanya.

Kepalang basah, Judika tetap kukuh untuk mewujudkan impiannya. Dan akhirnya dia menemukan Indonesia Idol sebuah kontes yang menurutnya bisa mengantarkan mimpinya menjadi seorang penyanyi profesional.
Meski menjadi runner up, Judika mengaku telah berhasil. Dia bisa membuktikan kepada orang tuanya. Bagi penyanyi kelahiran 31 Agustus 1978 silam ini, perjalanan karirnya sampai saat ini dirasa belum berakhir, dia masih belum puas atas apa yang ia raih.

Judika tidak hanya bagus suaranya saja tapi juga pandai berakting dan aktingnya bukan sekedar numpang lewat saja. Dia mendapat pengahargaan sebagai kategori pendatang baru pria terbaik dalam film " Si Jago Merah" pada Indonesia Movie Awards 2009. Film Si Jago Merah merupakan film komedi yang menceritakan tentang para petugas pemadam kebakaran dengan segala konfliknya. film ini juga dibintangi Ringo Agus Rahman, Desta Club 80's, Poppy Sovia, Joe P Project, dan Indra Birowo.

Sejak akhir tahun 2010, ia terlihat merapat ke Republik Cinta Management yang diasuh Ahmad Dhani. Penyanyi Judika kini resmi menjadi vokalis grup band bentukan Ahmad Dhani, Mahadewa, kini dia lebih berkonsentrasi lantaran ini pertama kalinya Judika menjadi seorang vokalis band.





Salah satu faktor yang membuatnya ingin bergabung dengan Mahadewa karena sejak lama mengidolakan Dhani. Judika mengagumi kemampuan musikalitas bos Republik Cinta Manajemen (RCM) itu. Padahal sebelum memutuskan gabung dengan Mahadewa, sudah banyak tawaran dari band lain yang menghampiri. Salah satunya, Kerispatih. Namun semua ditolak Judika demi Mahadewa.



Untuk kehidupan asmara, Judika diketahui berpacaran dengan model sekaligus runner up Puteri Indonesia 2007 yang mewakili Sumatra Utara. Tahun ini, Judika berencana menikahi Duma Riris Silalahi. Namun, hubungan keduanya sempat terkendala restu dari orangtua Duma. Entah apa sebabnya, tapi hubungan Judika dan Duma memang sempat putus pada Januari tahun ini setelah pacaran selama empat tahun.
Alasannya, antara dirinya dan Duma memiliki perbedaan komitmen. Sebagai laki-laki yang bermimpi ingin menikah dengan wanita pujaan, tentu Judika tak ingin kisah cintanya kandas di tengah jalan. Tapi menjalani hubungan di atas perbedaan tak semudah yang mereka pikirkan hingga keduanya butuh waktu untuk koreksi diri.

Boleh jadi karena keduanya sempat putus, orangtua Duma Riris sempat tak mau menerima Judika. Namun Judika tak mau menyerah, dia memanfaatkan momen saat adik Duma sakit di Semarang, Jawa Tengah. Judika menjenguk calon adik iparnya yang dirawat di rumah sakit sekaligus bertemu dengan ibunda Duma Riris. Kejadian ini sudah berlangsung tiga bulan silam.



Beruntung, saat bertemu Judika, ibunda Duma tidak marah dan mengusirnya. Namun Judika langsung ditinggal di dalam ruangan. Meski demikian, Judika tetap bersyukur karena itulah momen yang dia nantikan selama ini yakni bertemu calon mertuanya.

Pada hari Sabtu 31 Agustus acara pernikahan Judika Sihotang dengan Duma Riris Silalahi berlangsung di Gereja HKBP Balige, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Usai pemberkatan di gereja, diteruskan dengan acara adat Batak.

DISKOGRAFI



Seri Cinta (2005)
One (2007)

FILMOGRAFI

  • Si Jago Merah (2008)
  • The Tarix Jabrix 2 (2009)
  • Crazy Love (2013)
Sumber :
http://www.ceritamu.com/info
http://id.wikipedia.org
http://mahardikanews.com
Untuk kehidupan asmara, Judika diketahui berpacaran dengan model sekaligus runner up Puteri Indonesia 2007 yang mewakili Sumatra Utara. Tahun ini, Judika berencana menikahi Duma Riris Silalahi. Namun, hubungan keduanya sempat terkendala restu dari orangtua Duma. Entah apa sebabnya, tapi hubungan Judika dan Duma memang sempat putus pada Januari tahun ini setelah pacaran selama empat tahun.

Alasannya, antara dirinya dan Duma memiliki perbedaan komitmen. Sebagai laki-laki yang bermimpi ingin menikah dengan wanita pujaan, tentu Judika tak ingin kisah cintanya kandas di tengah jalan. Tapi menjalani hubungan di atas perbedaan tak semudah yang mereka pikirkan hingga keduanya butuh waktu untuk koreksi diri.

Boleh jadi karena keduanya sempat putus, orangtua Duma Riris sempat tak mau menerima Judika. Namun Judika tak mau menyerah, dia memanfaatkan momen saat adik Duma sakit di Semarang, Jawa Tengah. Judika menjenguk calon adik iparnya yang dirawat di rumah sakit sekaligus bertemu dengan ibunda Duma Riris. Kejadian ini sudah berlangsung tiga bulan silam.

Beruntung, saat bertemu Judika, ibunda Duma tidak marah dan mengusirnya. Namun Judika langsung ditinggal di dalam ruangan. Meski demikian, Judika tetap bersyukur karena itulah momen yang dia nantikan selama ini yakni bertemu calon mertuanya. Hingga kini, Judika masih terus berjuang demi mendapat restu dan izin dari calon mertuanya untuk menikahi Duma Riris. (cumicumi@Jak) - See more at: http://www.cumicumi.com/celebrities/judika/profile.html#sthash.fs0ZtIyO.d

Mulan Jameela

Mulan Jameela lahir di Garut, Jawa Barat, 23 Agustus 1979 dengan nama lahir Raden Terry Tantri Wulansari. Ia adalah seorang penyanyi dan aktris berkebangsaan Indonesia. Awal popularitasnya dimulai pada tahun 2005 saat menjadi vokalis utama duo Ratu, yang merupakan grup musik wanita tersukses di Indonesia dalam dekade 2000-an. Saat bersama Ratu, Ia memakai nama panggilan Mulan Kwok. Ia sebelumnya sempat merekam album solo, namun tidak berhasil di pasaran. Setelah mundur dari formasi Ratu pada tahun 2007, Mulan merilis album bertajuk Mulan Jameela pada tahun 2008, yang memantapkan posisinya sebagai salah satu penyanyi solo perempuan paling populer di Indonesia. Mulan dikenal karena suara seraknya yang khas serta penampilannya di atas panggung.
Ratu 

Mulan mengawali karier dari penyanyi café dan pernah tergabung dalam beberapa band seperti Swara Coustic, Bandung All Star dan Dimensi Band. Pada awal tahun 2005, Mulan bergabung bersama Maia Ahmad dalam duo terkenalnya Ratu dan merilis album bertajuk Ratu & Friends. Single pertama berjudul "Teman Tapi Mesra" sukses besar dan seketika melambungkan nama Mulan Kwok menjadi salah satu vokalis papan atas. Sejumlah penghargaan pun berhasil diraih. Album ini terjual lebih dari 400.000 kopi dan mengukuhkan Ratu menjadi grup wanita paling sukses saat itu. Tahun 2006, dirilislah album berjudul No. Satu yang kembali melahirkan hits berjudul "Lelaki Buaya Darat" dan "Dear Diary". Album ini pun sukses terjual hingga 500.000 kopi di minggu pertama perilisannya. Namun kemudian, pada 31 Januari 2007 Mulan mengumumkan hengkangnya dari Ratu akibat masalah transparansi keuangan di tubuh manajemen Ratu.


Pada 28 Mei 2007, Mulan resmi bergabung dengan Republik Cinta Management. Album solo perdana Mulan diluncurkan pada Januari 2008, bertajuk Mulan Jameela. Seperti judul album, Mulan pun tidak lagi memakai nama panggung "Mulan Kwok". Album yang didominasi musik pop rock ini digarap oleh musisi Ahmad Dhani. Album perdana Mulan ini menelurkan sebanyak 4 buah hits, yaitu "Makhluk Tuhan Paling Sexy", "Wonder Woman", "Bukannya Aku Takut" dan "Jatuh Cinta Lagi". Hanya dalam kurun kurang dari 2 bulan, album ini telah meninggalkan angka penjualan 75.000 kopi dan disemati platinum oleh EMI. Di tempat lain, Mulan juga dilirik oleh perusahaan raksasa telekomunikasi Malaysia, Maxis. Dalam beberapa bulan saja, Mulan telah mampu menerobos sejumlah nominasi penghargaan, bahkan ia menjadi satu-satunya solois Indonesia yang dinominasikan pada MTV Asia Awards 2008 di Genting, Malaysia.
Kiprah Mulan di bidang seni peran dimulai saat membintangi FTV "Primadona Mencari Surga" pada tahun 2006, bersama Darius Sinathrya, Indra Birowo dan Aming. Di tahun 2007, Mulan membintangi sebuah sinetron berjudul "Pasangan Heboh" bersama Baim Wong. Beberapa judul FTV pun menyusul Mulan pada tahun yang sama. Sementara pada layar lebar, Mulan membintangi sebuah film berjudul "Maaf Saya Menghamili Istri Anda" bersama Ringgo Agus Rahman. Untuk film perdananya, Mulan telah dinominasikan pada MTV Indonesia Movie Awards 2007 dalam kategori Breaktrough Actor/Actress.

Saat masih pendatang baru dalam dunia musik, Mulan sudah mempunyai ketenaran yang bagus, lagu-lagu yang dibawakannya selalu menjadi hits di industri musik Indonesia, gaya busana yang ia pakai termasuk gaya busana yang sangat sulit diterjemahkan oleh masyarakat.
 
Dalam kehidupan pribadi Mulan, dikabarkan jadi salah satu pemicu bercerainya pasangan Ahmad Dhani dan Maia Estianty, dikabarkan pernah membangun asmara semenjak Mulan masih bergabung dalam Duo Ratu, keberadaan Mulan dikabarkan menjadi duri dalam daging dalam rumah tangga Dhani-Maia yang berujung perceraian. Akhir-akhir ini bahkan disebutkan bahwa Mulan saat ini menjadi istri sirri Ahmad Dhani.
Mulan juga pernah dikabarkan hamil dan melahirkan seorang putri yang digadang-gadang sebagai buah hati dengan Ahmad Dhani. Namun pihak Ahmad Dhani mengabarkan bahwa Mulan tengah rehat karena sedang mempersiapkan diri untuk dua album sekaligus. 

DISKOGRAFI 
Album Solo
Bersama Ratu
Album Kompilasi
 Film
  • Sang Primadona Mencari Surga (2006)
  • Maaf Saya Menghamili Istri Anda (2007)
  • Pasangan Heboh (2007)
  • Bodyguard Sang Penyanyi (2007)
  • Penyanyi Yang Difitnah (2007)
  • Habis Manis Suami Dibuang (2007)
  • Serumah Tapi Musuh (2007)
Sumber :
http://id.wikipedia.org
http://sosok.kompasiana.com

Download Lagu Ratu Album No. Satu

No. Satu adalah album musik ketiga karya Ratu dirilis tahun 2006. Sebagian besar lagu di album ini bergerak di jalur pop rock. Dari 11 track di album ini, 6 lagu diantaranya ditulis oleh Maia Ahmad. Selain itu Ahmad Dhani juga ikut menulis 3 lagu, yaitu "Semakin Hari Semakin Cinta", "Lelaki Yang Ku Mau (Jazz Up Your Life)", dan "No. Satu". 2 lagu lainnya, "Ratu Sejagad" dan "Di Dadaku Ada Kamu" merupakan lagu lawas yang diaransemen ulang oleh Ratu. Keseluruhan album ini dinyanyikan oleh vokal serak-basah Mulan Kwok, kecuali di lagu "Lelaki Buaya Darat" Maia juga ikut menyanyi.

Album ini melahirkan 2 single andalan, yaitu "Lelaki Buaya Darat" dan "Dear Diary". Di minggu pertama perilisannya album ini telah sukses terjual hingga 500.000 kopi. Memecahkan rekor penjualan album grup wanita di Indonesia. Track 9 dulu lagunya Vina Panduwinata, track 7 lagunya Vonny Sumlang.

Daftar Lagu
Klik pada lagu untuk download Mp3-nya
  1. Lelaki Buaya Darat
  2. Semakin Hari Semakin Cinta
  3. Dear Diary
  4. Seribu Cinta
  5. Teman Tapi Mesra
  6. Lelaki Yang Ku Mau (Jazz Up Your Life)
  7. Ratu Sejagad
  8. No. Satu
  9. Di Dadaku Ada Kamu
  10. Aku Pasti Kembali
  11. Teman Tapi Mesra (akustik)